Senin, 03 Agustus 2020

Review Buku - Fighting, Son Seng Nim!

Terbit cukup lama tapi baru sempat baca sekarang, hehe. Dan tiga hari ini lumayan bermanfaat juga deh, karena cukup untuk menyelesaikan 391 halaman. Meski kadang curi-curi juga sih, pengen cepetan baca endingnya. Tapi bukan berarti tidak menikmati prosesnya lho ya, Cuma penasaran aja sih. Oke, ayok kita mulai ghibahin buku kali ini. 


Judul: Fighting, Son Seng Nim! 
Penulis: Nuraisah H 
Penerbit: Penerbit Indiva Media Kreasi 
ISBN : 978-602-1614-50-1 
Jumlah halaman : 392 halaman 
Cetakan pertama : September 2016 

Seperti dua tulis di prolog di atas, tiga hari weekend ini jadi salah satu yang bermanfaat. 391 atau lengkapnya 392 halaman berhasil gue tuntaskan dengan nikmat. Sebuah pencapaian yang menyenangkan, mengingat sekarang membaca perlu dipaksa lebih dulu. Karena ya ... ternyata banyak hal yang terpaksa harus mendapat perhatian lebih dalam skala prioritas. 

Dibuka degan konflik yang dialami tokoh utama novel ini, Fatimah Az Zahra, seorang guru yang terpaksa harus pindah tempat mengajar lantaran keputusan sang kepala sekolah sekaligus pemilik yayasan. Konflik yang disajikan ini terasa apik dan begitu dekat. Well, seperti itu kira-kira yang dirasakan oleh orang kaya gue, yang juga nggak jauh-jauh dari dunia pendidikan. Perubahan dan berada di tempat baru, dengan orang baru dan situasi baru, memang kadang membutuhkan energi ekstra. 

Cerita berlanjut dengan keseharian sang ‘Son Seng Nim’ atau guru—dalam bahasa Korea—saat harus berinteraksi dengan siswa maupun orang tua siswa. Ada banyak fakta baru yang memang baru gue tahu saat membaca novel ini. Memang beda sekolah, beda juga cara mereka memberikan layanan pada siswanya. Dan ini benar-benar terasa. Gue nggak menyalahkan satu atau membenarkan metode yang dilakukan suatu sekolah dan sekolah lain. Tapi dari novel ini gue merasa memang perbedaan yang ada begitu besar. Dari fasilitas sekolah, kualitas—latar belakang pendidikan—guru-guru mereka hingga servis yang diberikan pada orang tua siswa. Benar-benar berbeda. Dan jangan protes jika hasilnya juga berbeda. Rasanya seperti sudah ada ‘pakem’ tersendiri bagi mereka—guru-guru dan sekolah internasional—dalam kurikulum mereka, hingga lulusannya pun benar-benar berbeda. 

Ada satu buku yang pernah gue baca beberapa tahun silam, milik Ghina Amanda, judulnya Asonde Kurete, Arigatou! (Penerbit Diva Press, 2014) dengan tema yang sama. Jika Asonde Kurete lebih ke catatan perjalanan penulisnya saat magang di sebuah TK saat ia berada di Jepang, maka Fighting, Son Seng Nim adalah cerita fiksi yang diramu penulis tentang sebuah TK Korea. Unik, jelas. Keduanya menceritakan apa saja yang terjadi saat di TK dari dua budaya berbeda. Meski jelas keduanya berbeda, yang satu non fiksi dan satu lagi fiksi, tapi kisah yang ada di kedua buku ini seperti menarik gue pada sudut pandang yang berbeda soal pendidikan di level dasar. Bahwa mengajar anak level dasar (PAUD, TK dan kawan-kawannya) ternyata jauh lebih sulit dibandingkan mengajar di level lebih atas. Tanpa mengurangi rasa hormat pada guru-guru lain, tapi pendidikan di TK menempatkan guru-gurunya benar-benar seperti orang tua kedua. Yang tidak hanya ngerti cara mengajar, tapi juga paham serta mengerti perkembangan si anak. Nggak heran sih, kalau di TK satu kelas bisa dipegang beberapa guru sekaligus. Karena memang nggak mungkin mengasuh anak-anak yang unik ini dengan cara yang sama begitu saja. 

Btw, kayaknya gue juga pernah bahas yang Asonde Kurete, Arigatou deh. Tapi di postingan yang mana ya? Entar deh, gue cari dulu ya. Seriusan ini, lupa entah yang mana. 

Oke, kembali ke cerita. Pada novel Fighting, Son Seng Nim diceritakan suka-dukanya guru mengajar. Tidak hanya saat menyenangkan saja, tapi juga saat nggak enaknya. Interaksi Fatimah sang tokoh utama dengan kawan-kawan sesama guru Indonesia maupun guru Korea sudah menjadi konflik tersendiri. Dan semua itu dibawakan dengan mengalir. Pembahasan soal budaya, bahasa, cara pandang, agama bahkan cara berpakaian pun dibahas santai dan ngalir gitu aja. Tanpa harus memojokkan ataupun membuat yang lain tampak unggul sedang yang lain biasa saja. Hal ini yang membuat pembaca kek gue merasa nyaman aja, karena tidak seperti tengah digurui ataupun dihakimi. 

Kalau ditanya bagian yang bikin sedih ya hubungan antara Fatimah dengan ibunya. Lalu hubungan cinta Fatimah dengan sang pacar yang akhirnya kandas. Dan semua itu tetap dibalut dengan manisnya persahabatan beda budaya pada guru serta interaksi mereka dengan para siswa. Serius, gue menikmati setiap bagian novel ini. Ngalir gitu aja. 

Meski memang, tetap ada beberapa bagian yang menurut gue nggak tuntas sih. Contohnya karakter Esty, yang ada awal cerita digambarkan sebagai sahabat Fatimah. Tapi hingga akhir, ternyata tidak ada pembahasan lagi tentang Esty ini. Kan sayang banget. Memang sih, ada kawan-kawan baru buat Fatimah, tapi ya nggak gitu juga dengan tanpa kejelasan hingga ending. Lalu masalah dengan imigrasi juga cukup menarik perhatian gue. Ini benar-benar baru. Ya meski dalam beberapa drama/film ada juga sih hal seperti ini, tapi baru kali ini dibahas di novel—yang gue baca—. Dan akhirnya gue Cuma bisa bilang, ‘oh jadi gitu ya’. Oh iya, untuk urusan imigrasi ini juga ada satu yang kayaknya nggak selesai ya. Soal surat perjanjian antara Fatimah dengan sang kepala sekolah. Terlewatkah? 

Perubahan yang menarik terjadi pada karakter Fatimah. Sekali lagi, gue suka karena tidak serta merta dan tiba-tiba. Ada proses yang terjadi. Interaksi dengan kawan-kawannya hingga masalah yang datang serta dialami Fatimah membuatnya banyak berubah. Intinya sih, semua orang berhak untuk berubah menjadi lebih baik. 

Untuk urusan tata bahasa, gue selalu acungi jempol pada Indiva yang memang selalu rapi. Makannya nunggu novel baru terbitan Indiva itu suka bikin lumutan sendiri, saking lamanya. Tapi penantian itu yang layak sih, karena memang rapi. Dari sekian halaman yang gue baca, gue hanya menemukan dua typo saja, untuk dua huruf saja. Jauh lah dibanding...eh nggak usah dibandingkan lah ya. 

Kalau pertanyaannya bagian yang enggak gue suka, mungkin beberapa bagian di dua bab terakhir. Soal pengetahuan Fatima yang agak maksa sih, hehe. Well ... dia masih proses berubah sih, jadi itu rasanya agak terlalu cepat. Tapi cerita ditutup dengan manis, bahwa tidak selalu ‘pangeran menjemput putri, mereka menikah dan bahagia selamanya’. Ending novel ini lebih bisa diterima sih, bahwa tiap orang punya ceritanya masing-masing. Dan tidak ada hal untuk memaksakan satu hal pada yang lain. Berbeda bukan berarti alasan untuk tidak menghargai. Dan urusan menikah itu ... tetaplah menjadi misteri, yang baru akan terkuak pada saat yang tepat. Hoi ... urusan hidup nggak Cuma ending saat elo nikah. Karena nikah itu justru awal yang baru untuk mengarungi samudra luas yang semakin beragam situasi dan kondisinya nantinya. Keren. 

Oke, segitu dulu ghibahin novel di blog ini. Kali ini jadi satu postingan aja deh. Biar lebih panjang aja. Sampai jumpa di ghibahin buku lainnya.

Kamis, 30 Juli 2020

Review Buku - Kertas Hitam (bersampul) Putih part 2

Setelah bagian pertama, berikutnya adalah bagian kedua pembahasan novel ‘Kertas Hitam’. Kalau kemarin habis ghibahin tokoh dan karakternya, sekarang saatnya ghibahin ceritanya.
 

Judul: Kertas Hitam 
Penulis: Aru Armando 
Penerbit: Penerbit Shofia 
ISBN : 979-602-5862-38-0 
Jumlah halaman : 242 halaman 
Cetakan pertama : Juni 2020 

Setelah membahas bagian pertama, ternyata memulai ghibah bagian kedua agak sulit ya. Bukan karena bukunya tapi karena gue-nya, hehehe. Oke, sepertinya memang harus dipaksa memulai dulu. Semoga tulisan kali ini nggak mengecewakan. 

Kalau pada tulisan pertama gue bahas mengenai karakternya, maka kali ini gue akan bahas mengenai ceritanya atau alurnya. Novel Kertas Hitam ini menggunakan alur maju. Normal lah ya. Sepertiga bagian pertama novel, sejujurnya terasa lumayan membosankan. Selera sih, kalau ini. Nah tapi menjelang tengah novel baru deh kerasa menantang adrenalinnya. 

Cerita dibangun dari awal bab dengan penjelasan panjang mengenai beberapa hal penting yang jadi latar belakang kasus. Seperti kasus lama yang belum selesai, kasus goreng menggoreng saham, segala hal tentang saham dan semua itu akhirnya bermuara pada kasus utama yaitu mempersiapkan dana besar yang akan digunakan pada pemilu di dua tahun berikutnya. 

Cerita jadi menarik karena ada benang merah yang sekilas tidak terlihat, yakni dari permainan saham ke penyedia uang dana kampanye. Banyak yang terlibat di sini, tetapi hanya sedikit yang benar-benar paham dan mengerti kalau sebenarnya ia tengah ‘menyumbang’ uang yang nominalnya tidak kecil untuk suatu kegiatan besar yang sebenarnya berpengaruh pada orang-orang tertentu saja. 

Bagaimana dengan publik? Publik hanya diizinkan tahu bagian luarnya saja dan pada akhirnya juga hanya menikmati bagian luar a.k remahannya saja. Oke, stok urusan satu ini, nggak mudeng gue. 

Bagi gue, istilah-istilah saham serta kewartawanan dalam novel ini adalah hal baru. Dan ternyata itu disampaikan dengan simpel bin sederhana oleh penulis Aru Armando. Sebagai orang awam, gue nggak terlalu sulit untuk mengikutinya. Karena memang semua hal itu ternyata saling berkaitan satu sama lain. Secara keseluruhan, novel ini adalah selera gue. Nggak banyak deskripsi, tapi bercerita lewat percakapan antar tokohnya. 

Oh iya, hampir ketinggalan. Karakter favorit gue dalam novel ini adalah ‘Mbah’, sang wartawan senior. Rasanya ada yang mencurigakan dengan si mbah ini. Dan berharap penulis Aru Armando bisa mengungkap lebih luas lagi karakternya di buku lain. heee 

Sekian ghibahin novel Kertas Hitam bersampul putih kali ini. Yang penasaran gimana cerita lengkapnya, cuzz baca langsung aja ya. Btw, gue jadi penasaran sama novel pertamanya penulis Aru Armando yang ‘Sang Pewarta’ deh. Ada yang mau bagi? Hehehehe #modus

Rabu, 29 Juli 2020

Review Buku - Kertas Hitam (bersampul) Putih part 1

Yeaaaay ... baca buku lagi. Pertama buka sampulnya, sempat khawatir juga. Judulnya sih Kertas Hitam, tapi sampulnya putih bersih. Duh, ini harus memastikan tangan dalam keadaan bersih sebelum mulai membuka dan jalan-jalan di tiap halamannya. Oke, jadi begini ceritanya ... 


Judul: Kertas Hitam 
Penulis: Aru Armando 
Penerbit: Penerbit Shofia 
ISBN : 979-602-5862-38-0 
Jumlah halaman : 242 halaman 
Cetakan pertama : Juni 2020 

Ini buku pertama penulis Aru Armando yang gue baca. Tergiur review dari akun IG @detectives_id, rasa penasaran pun muncul. Dan akhirnya kesempatan itu datang. Buku ini akhirnya mendarat dengan selamat di depan gue. Butuh super kehati-hatian saat membuka bungkusnya. Soalnya sampulnya putih, brooo 

Buku ini sendiri terdiri dari 20 chapter berbeda. Tapi tidak ada judul khusus tiap chapternya, hanya nomer chapter. Jadi, nggak bisa ngebayangin juga isi tiap chapter seperti apa. Oh iya, gue akan buat review dalam dua part berbeda ya. Pada part ini gue akan bahas karakter yang muncul di buku ini. Dan untuk part berikutnya baru bahas isi serta plot. 

Karakter utama di buku ini adalah seorang wartawan bernama Tomi alias Satrio Utomo. Sepertinya novel ini masih punya benang merah dengan novel pertama penulis, karena masih menggunakan karakter yang sama. Ya si Tomi ini, yang dikenal sebagai ‘sang pewarta’ persis seperti judul novel pertamanya. Sebagai seorang wartawan, Tomi digambarkan sebagai wartawan cerdas, cadas dan berani. Meski, sebagai manusia, ia tetaplah manusia biasa yang pasti punya kelemahan. Sayangnya, kelemahan ini adalah sesuatu yang mudah dibaca. Atau memang sengaja dibuat seperti ini. 

Karakter lain yang muncul adalah Ratri si wartawan cantik nan seksi. Tidak hanya cerdas dan otaknya berisi, tapi Ratri ini paket komplit, karena cantik dan pandai memikat. Sayangnya, kehidupan Ratri tidak seindah tampilan fisiknya. Hmmm ... karakter Ratri ini, rumit, ehehehe. Baca sendiri aja ya. 

Karakter utama berikutnya adalah Maya. Tokoh Maya inilah yang nantinya akan jadi salah satu alasan bagi Tomi untuk masuk dan terseret lagi pada masalah lama yang belum selesai. Maya digambarkan sebagai pegawai biasa yang menjalahi kehidupan normal biasa dan tiba-tiba saja terdesak oleh berbagai hal. Berbeda dengan Tomi yang sudah terbiasa dengan kehidupan sebagai wartawan yang serta tidak pasti, Maya punya hidup yang ‘pasti’. Awalnya Maya digambarkan sebagai karakter cerdas dan sangat hati-hati. Tapi saat ia terseret dalam pencarian kebenaran bersama Tomi, muncul sifat-sifat manusiawi pada dirinya, seperti manja, kesal, penasaran, bahkan ceroboh. Mungkin dari semua orang dalam novel ini, Maya-lah karakter yang paling manusiawi. 

Selain tiga tokoh utama ini, ada beberapa karakter lain yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam cerita. Seperti tagline yang dipopulerkan, ‘white colar crime’, karakter di novel ini memang kebanyakan adalah orang-orang yang memang berada di balik meja. Orang-orang yang dengan telepon di tangan bisa menggerakkan banyak kaki dan tangannya untuk melakukan banyak hal di luar sana. Sementara mereka sama sekali tidak tersentuh. 

Dari semua karakter itu, sebenarnya ada satu karakter yang menarik menurut gue. Karakter ‘mbah’ yang digambarkan sebagai seorang wartawan senior. Sepanjang membaca novel ini, entah kenapa gue berpikir—dan berharap—ada plot twist pada karakter si ‘mbah’ ini. Berharap kalau dia sebenarnya orang penting yang perlu mendapat perhatian khusus. Mungkin di tulisan lainnya. 

Balik lagi kepada Tomi, sebagai karakter utama, Tomi memang punya peran yang sangat besar. Jelas, dengan kemampuan dan kepiawaiannya sebagai wartawan, dia bisa disebut wartawan super. Dan ini membuat gue tergelitik ingin membaca novel sebelumnya ‘Sang Pewarta’. Karena di novel ‘Kertas Hitam’ ini ada beberapa karakter Tomi yang tidak dijelaskan kenapa demikian. Mungkin gue bisa menemukan kisahnya di buku sebelumnya. 

Duh, kenapa jadi aneh bin kaku begini ya tulisan gue? Jadi, ini cerita mengenai karakter di novel Kertas Hitam. Sebenarnya gue gatal ingin mengulas ceritanya. Tapi nggak seru kalau dibahas di sini. Sampai jumpa di tulisan berikutnya, soal alur cerita ‘Kertas Hitam’ ini. See U

Jumat, 03 Juli 2020

Resensi Negara Kelima – Sebuah Keresahan (part 3 habis)

Niat hati Cuma mau buat dua part saja, akhirnya jadi tiga part. Baiklah. Bagian ini benar-benar akan jadi curhat saya. Jadi, nggak usah protes, oke. Silakan dan selamat menikmatinya saja. 


Judul: Negara Kelima 
Penulis: E.S Ito 
Penerbit: Penerbit Serambi Ilmu Semesta 
ISBN : 979-16-0095-3 
Jumlah halaman : 518 halaman 
Cetakan pertama : Oktober 2005 

Sebenarnya, saya tidak benar-benar ingat berapa kali membaca ulang novel ini. Menarik, itu yang cukup saya pahami setelahnya. Memacu adrenalin saya. Dan meninggalkan sebuah rasa penasaran yang sangat untuk mencari tulisan lainnya. 

Jika ‘Negara Kelima’ adalah novel pertama penulis E.S Ito, maka artinya ada tulisan lainnya. Dari sumber terbatas yang beredar di internet, akhirnya saya tahu buku keduanya yang berjudul ‘Rahasia Meede’. Dan perburuan atas tulisan kedua ini pun saya lakukan. Sama seperti buku sebelumnya, mencari Rahasia Meede juga ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami. Butuh perjuanga berdarah-darah, hahaha. 

Dan ya, akhirnya Rahasia Meede pun berhasil diselesaikan. Hampir sama dengan Negara Kelima, sederet fakta sejarah pun disajikan dengan manis dalam novel ini. Dan sama juga, hati-hati dengan fakta sejarah di dalamnya, karena banyak jebakan, hahaha. Yang jelas, penulis sangat lihat membuat benang merah dari beragam fakta sejarah asli—yang sebenarnya nggak ada hubungannya—menjadi kisah yang rapi dan saling berhubungan. Btw, imajinasi saya lebih nyambung sih di Rahasia Meede ini, soalnya terasa lebih nyata lantaran saya pernah datang ke tempat-tempat yang disebutkan. 

Tidak puas hanya dua novel, saya pun berburu tulisan lainnya. Sayangnya, seperti misteriusnya sosok E.S Ito, misterius juga tulisan lainnya. Ada beberapa judul yang muncul kemudian, dan sama seperti sebeulumnya, butuh perjuangan juga untuk mendapatkannya. 

Bertahun setelahnya, terpaksa saya menekan keinginan untuk menikmati tulisan om E.S Ito, sampai sebuah serial muncul. Ya, serial ‘Brata’ yang tayang di salah satu platform film digital ternyata karya om E.S Ito. Yuhuuuu ... nggak baca tulisannya dalam bentuk buku, baca juga tulisannya dalam bentuk gambar. Setidaknya, ini yang jadi pengobat rindu akan tulisan-tulisan om E.S Ito. Meski sebenarnya saya masih berharap, ada tulisan lainnya semodel Rahasia Meede dan Negara Kelima ini. 

Sekian curhat malam ini. Sampai jumpa di tulisan lainnya, hehehe

Selasa, 30 Juni 2020

Resensi Negara Kelima – Sebuah Keresahan (part 2)

Kalau pada tulian sebelumnya, saya membahas tentang karakter Timur yang muncul secara visual dalam Oka Antara di serial Brata, maka kali ini saya akan membahas tentang isi buku ‘Negara Kelima’. Tenang, saya akan berusaha tidak membuat spoiler kok. Paling-paling kebanyakan curhat, hehehe 

 
Judul: Negara Kelima 
Penulis: E.S Ito 
Penerbit: Penerbit Serambi Ilmu Semesta 
ISBN : 979-16-0095-3 
Jumlah halaman : 518 halaman 
Cetakan pertama : Oktober 2005 


Seperti ada di tulisan sebelumnya, membaca ‘Negara Kelima’ ini bukanlah yang pertama bagi saya. Tapi yang bukan pertama ini pun ternyata tidak membuat pesonanya kikis apalagi hilang. Nyatanya, 500sekian halaman pun tetap lahap dan habis tuntas dibaca. Jika pada artikel sebelumnya saya membahas tentang tokoh Timur (meski tanpa membahas tokoh lainnya), maka pada tulisan ini saya ingin membahas sebagian isinya. 

Seperti novel bergenre suspense lainnya, Negara Kelima juga menghadirkan kasus kematian sebagai pemicu munculnya puzzle-puzzle yang nantinya akan disusun sebagai penyelesaian, pada bab pertama. Kasus ini kemudian berkembang dan terhubung dengan sebuah organisasi bernama ‘Kelompok Patrotik Radikal’ atau Keparad, pake ‘d’ ya. 

Apa yang penting bagi sebuah kasus? Motif atau alasan. Situasi di TKP membawa karakter Timur dan polisi lainnya untuk memburu motif kematian. Dan Keparad jadi salah satu benang merahnya, bahkan ‘pelaku’nya, secara tidak langsung. Dan semua itu butuh latar belakang kuat. Kali ini penulis membuatkan latar belakang ‘sejarah’ bagi Keparad. 

Penelusuran Timur dan partnernya, Eva Duani membawa mereka dalam petualiangan sejarah yang cukup panjang. Tentu dengan tujuan awal, mengungkap kematian pada bab pertama—yang sempat merembet juga pada kematian lain di bab-bab berikutnya—dan menemukan pelaku pembunuhan itu. Tidak tanggung-tanggung, om E.S Ito mengajak pembaca berpetualang—lewat Timur dan Eva—ke masa sekian ribu tahun yang lalu. Tepatnya sebelar ribu tahun yang lalu. Cukup uwow kan ... 

Jadi, jangan heran kalau buku ini cukup panjang. Selain memunculkan kisah pencarian Timur dan mendadak menjad buronan, buku ini juga menyajikan fakta-fakta sejarah yang cukup baru bagi saja. Menariknya, semua fakta sejarah dalam buku ini memiliki benang merahnya masing-masing, yang semuanya terhubung secara rapi dan runtut. Ada awal dan akhirnya, ada tujuan yang perlu dicapai. 

Ada perbedaan menarik saat membaca buku ini bertahun silam dan beberapa hari yang lalu. Oke, ini curhat. Jadi, saat membacanya sekian tahun silam, ketertarikan saya akan fakta-fakta yang dipaparkan dalam buku ini cukup tinggi. Sayangnya, saat itu kepopuleran internet untuk mencari informasi belum didukung dengan perangkat memadai—bagi saya—. Alhasil, banyak fakta-fakta yang akhrinya Cuma saya terima saja, ‘oh, begitu’. 

Berbeda dengan saat ini. Dengan mudah informasi dilacak dan dicari dalam hitungan seper sekian detik saja. Dan akhirnya saya menyadari, wow ... begitu luas dan detailnya E.S Ito membuat dunia bernama ‘Negara Kelima’ dengan segala kedetailan dan fakta sejarahnya. 

Jadi gini, memang benar ada banyak fakta sejarah yang muncul dalam buku ini. Tetapi, tidak sedikit juga hal-hal yang muncul sebagai ‘fakta’ hanya di buku ini saja, alias hanya fiksi di dunia nyata. Bukan hal yang aneh, mengingat buku ini memang sebuah novel, karya fiksi. Hanya saja, saya cukup terkejut dengan kedetailan ceritanya dan kemampuan penulis untuk meramu semua fakta itu dan mengisi kekosongan antaranya dengan fakta imajinasi yang dibuatnya. Menarik. 

Memang, kalau membaca lebih detail, ada beberapa hal yang kurang teliti. Misalnya angka tahun. Beberapa kali saya harus membaca ulang untuk memastikan angka tahun yang tertera. Dan memang ternyata keliru. Nggak salah sih, Cuma kan agak ganggu karena jadi kurang logis ceritanya. Meski memang, bilangan angka itu tidak berselisih banyak. 

Satu lagi fakta yang membuat saya tak berhenti terkesan adalah ... kepopuleran internet yang sudah disebutkan berulang kali dalam novel ini. Novel ini terbit tahun 2005, yang otomatis ditulis sebelum itu. Tetapi saat dibaca di masa sekarang, rasanya fakta teknologi dalam novel ini tidak terlalu tertinggal jauh. Kecuali bagian ponsel pintar, hehe. Yang jelas, masih pantes lah dibaca di masa kini. Kecuali om E.S Ito berniat menuliskan ulang novel ini, menyesuaikannya dengan teknologi masa ini. Ya ... karena memang di tahun 2004-2005, internet baru memulai kepopulerannya di Indonesia. Jadi, jika buku ini sudah menjadikannya ‘hal biasa’, maka imajinasi penulis memang sudah bertahun lebih jauh dibanding saat menulis novel ini. 

Btw, saya bukan fans ‘deskripsi’. Jadi, kalau cerita terlalu banyak deskripsi, saya cenderung bosan. Karenanya, ada beberapa bagian dari novel ini—terutama deskripsi—yan sengaja saya lewatkan. Saya pasrahkan saja imajinasi terbatas itu di otak saya untuk mencerna setiap deskripsi yang ada, tanpa berniat merusak bentuk aslinya. Dan saya berharap ada kesempatan bisa menyamakan imajinasi ‘benda-benda’ yang dideskripsikan dalam novel ini dengan sang penulisnya. 

Pesan saya, jangan terkecoh dengan fakta-fakta sejarah di dalamya. Cek lagi dan pastikan mana yang fakta asli dan mana yang fakta fiksi, hehehe. Sekian, sampai jumpa di tulisan lainnya.

Jumat, 26 Juni 2020

Resensi Negara Kelima – Sebuah Keresahan (part 1)

Akhirnya bisa menyempatkan buat nulis lagi. Kadang, menyempatkan nulis memang harus dipaksa dulu ya. Biar sempat dan bisa. Udah ah, curhatnya. Jadi, ini dalam rangka review sebuah buku lama yang dibaca kembali. Tapi nggak pernah kehilangan daya magisnya. 

Entah kapan pertama kali baca buku ini. Yang jelas, bertahun setelah terbitnya pada 2005. Ketemunya pun enggak sengaja. Dan ketidaksengajaan itu menjadi magnet tersendiri yang memicu keterikatan dan rasa penasaran untuk berburu buku lainnya dari penulis yang sama. Dan itu perjuangan yang ahemmm. 

gambar dari google 

Judul: Negara Kelima 
Penulis: E.S Ito 
Penerbit: Penerbit Serambi Ilmu Semesta 
ISBN : 979-16-0095-3 
Jumlah halaman : 518 halaman 
Cetakan pertama : Oktober 2005 

Butuh empat hari untuk menjelajahi 500sekian halaman buku ini. Nggak terlalu cepat, justru cenderung selow sekali. Sepertinya memang harus kembali membiasakan diri dan memaksa diri terbiasa kembali membaca cepat. 

Muncul di tahun 2005, sezaman dengan tenarnya The Da Vinci Code milik Dan Brown, membuat ekspektasi terhadap buku ini cukup tinggi, saat itu. Tapi ekspektasi itu tidak terlalu bepengaruh sih sebenarnya, karena faktor ‘ketidaksengajaa menemukannya’. 

Dibuka dengan sebuah kasus pembunuan di hotel mesum, bab pertama buku ini sudah menggiring pembaca untuk masuk dalam situasi tegang. Penulis menghadirkan sisi lain karakter polisi sejak awal bab pertama buku ini. Pada bab-bab berikutnya, ketegangan dibuat mengalir lewat cerita tentang sebuah organisasi yang disebutkan memiliki cita-cita luhur, tetapi ‘dianggap’ sampah dan perusak oleh yang lain. 

Karakter sosok muda muncul sejak awal bab dan dengan ciri khasnya sebagai ‘pemberontak’, sebenarnya sudah cukup menjadi alasan kalau dia ini sang tokoh utama. Sayangnya, penulis ternyata terlalu lihai untuk membuat fakta ‘baru’ di bab 14, tokoh ini pun dibuat meninggal. Cerita akhirnya bergeser pada ‘kawan’ dari si tokoh utama. Dan di sinilah akhirnya terungkap, siapa sebenarnya karakter yang menjadi tokoh utama. 

Lalu, apa artinya 14 bab dan 104 halaman sebelumnya? Jadi lewat 14 bab pertama, pembaca diajak untuk jalan-jalan menyeberangi sejumlah fakta dan situasi yang mirip puzzle. Agak terlalu lambat sebenarnya, hingga baru di bab 15 karakter utama buku ini akhirnya muncul, bukan hanya sebagia nama yang diucapkan, tapi benar-benar menjadi tokoh yang diceritakan. Dan bahkan saya baru menyadari kalau ‘karakter’ ini tokoh utama, pada bab-bab berikutnya, lantaran ia menjadi tokoh yang paling sering muncul, dan lewat karakter inilah cerita tidak lagi menjadi kepingan-kepingan tak berarti. 

Meski sang karakter utama muncul, tidak serta merta menjadikan solusi atas kekacauan yang timbul pada bab-bab sebelumnya. Alih-alih, dia justru muncul dengan lebih banyak masalah dan kekacauan yang menunggu untuk diselesaikan. 

Kesel nggak tuh? Hahaha ... setelah lebih dari dua kali membaca buku ini, kekesalan itu sepertinya sudah menguap. Udah nggak heran lagi, karena dipinteri sang penulis. 

Seperti cerita dengan karakter polisi lainnya, tokoh utama ini juga digambarkan sebagai sosok pemberontak. Dengan tinggi badan standar polisi, tubuh tegak, rambut cepak dan sedikit jambang, tidak juga digambarkan dengan jelas kalau dia ini ‘cakep’. Mungkin bisa dibayangkan sosok Aryo Bayu atau Oka Antara saat memakai seragam polisi, seperti itulah penggambaran si karakter utama. Oh iya, nama tokoh utama itu adalah Timur Mangkuto. 

gambar by google

Meski secara personal, saya lebih suka penggambaran Oka Antara, seperti perannya sebagai polisi pemberontak berotak cerdas bernama Brata dalam serial ‘Brata’ (yang ternyata ditulis juga oleh penulis E.S Ito). Entah kenapa, saya berpikir kalau penulis E.S Ito memang sengaja menggambarkan sosok Timur dalam karakter Brata ini. 

Jadi, saat (kembali) membaca buku ‘Negara Kelima’ ini, yang ada dalam pikiran saya adalah Oka Antara dengan karakter ‘Brata’ yang ugal-ugalan itu. Well,itu pandangan personal ya. 

Oke, saya memang sengaja belum akan bercerita soal isi buku ‘Negara Kelima’ ini. Rasanya tidak akan cukup satu artikel saja untuk bisa menggambarkan isi ceritanya. Jadi, sampai jumpa di postingan berikutnya.

Jumat, 19 Juni 2020

Reuni Online Jilid 1

Entah ide siapa awalnya, jadi temen-temen SMP tetiba buat grup. Lah, bukannya ini hal yang biasa? Kalau bagi kami, generasi yang pisah-lulus di zaman HP masih mono dan polyponik ini jadi istimewa. Semacam ajang reuni satu angkatan. Hehehe, kelihatan banget ya, kapan lulus SMP-nya. Yang jelas, saat itu, saat lulus, belum ada aplikasi whatsapp apalagi model ngobrol dalam grup. 

foto koleksi pribadi
Istimewa juga, karena sebagian besar dari kami keluar kota selepas SMP untuk melanjutkan. Jadi, udah semacam budaya nggak tertulis bagi kami, buat melanjutkan sekolah ke kota lain. Selain kota tempat tinggal kami memang kota kecil—meski sebenarnya ada cukup sekolah SMA, MA bahkan SMK—semangat kami untuk belajar cukup tinggi. Dan itu nggak cukup kalau hanya dipenuhi dalam kota kecil ini saja. Btw, ini asumsi gue aja sih. 

Nah ajang reuni mendadak ini pun membuat kami nostalgila kembali zaman SMP. Dan saat itu pun gue sadar, kalau selama di SMP dulu, gue itu bukan siapa-siapa. Iya, ini curhatan. Teman-teman memang kenal gue, tapi nggak dekat. Ya gimana, sejak lulus SMP, gue juga melanjutkan keluar kota yang otomatis lost contact dengan banyak kawan, kecuali sebagian kecil sahabat dekat gue. 

Seperti reuni umumnya, selalu ada hal menggelitik yang mengusuk. Terutama bagi gue. Ada rasa minder dan malu, saat mendengar kabar kawan-kawan dengan segala macam aktivitas dan kesuksesan mereka. Lalu dengan keluarga kecil mereka juga. Hingga akhirnya, gue lebih banyak jadi penyimak pasif aja di grup. Bukan apa-apa, Cuma gue nggak punya kata-kata untuk disampaikan, gitu. 

Setelah banyak obrolan panjang dan gaje, ada yang punya ide untuk reuni beneran via online sekaligus ngobrol dengan salah satu guru. Dan guru itu adalah guru matematika di kelas 8. 

Jadi, malam minggu kemarin, akhirnya terlaksana meeting online dengan pak Guru ini. Gue yang terlanjur pengen Cuma nyimak, akhirnya telat gabung. Itu pun Cuma nyimak suara aja, nggak aktifkan video. Ada banyak reuni dan nostalgia momen lama. Ada juga curhat sedih dan bahagia dari kawan-kawan. Ada juga pengakuan dosa. Tapi dari semua itu, akhirnya semua memang gak bisa membenci guru. Seperti apapun waktu itu, semua berterimakasih pada ‘galak’ dan ‘tegas’nya pak guru. Iya, manfaat itu semua baru terasa saat ini. Butuh waktu dan pengalaman panjang untuk sampai di sini. 

Obrolan pun lanjut hingga membahas beberapa hal cukup sensitif soal pendidikan dan sekolah. Gue Cuma bisa tersenyum, dan bilang dalam hati ‘seperti itulah dunia pendidikan’. 

Pengalaman ini menyenangkan, sungguh. Mungkin berbeda dengan alumni SMA gue, yang udah aktif sejak berpuluh tahun silam, bahkan punya struktur organisasi yang rapi dan punya kegiatan jelas. Yang jelas, gue berharap ada banyak hal positif dari reuni kali ini. Terimakasih kawan. 

(eh ya, jadi inget sama first crush jaman SMP kan, hehehe. Ada juga cerita ditolak dan hmmm ... gue perlu cerita ini?) 

Kalau kalau ini Cuma ketemu online, semoga ada kesempatan ketemuan fisik ya. Etapi kasih waktu gue dulu, untuk bertumbuh lebih percaya diri. Untuk membuktikan kalau gue mampu. Dan untuk punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Sampai jumpa di reuni online jilid berikutnya.

my book

my book

Blogger FLP

Blogger FLP

Kampus Fiksi 13

Kampus Fiksi 13

Reading Challange

2020 Reading Challenge

2020 Reading Challenge
Bening has read 0 books toward her goal of 12 books.
hide

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.